Friday, October 1, 2010

Apa itu EPS dan apa itu PER ?

EPS = Earning Per Share
Rumus untuk mendapatkan angka EPS adalah ( Total Net Profit  / Jumlah saham beredar )
Dalam LapKeu, EPS biasanya sudah disajikan angkanya sehingga kita tidak perlu menghitung sendiri.

PER adalah Price Earning Ratio.
Rumus untuk mendapatkan angka PER adalah ( Harga saham / EPS )

Dalam satu periode LapKeu (3 bulan) angka EPS akan selalu tetap, sampai nanti muncul LapKeu berikutnya yang menunjukkan angka EPS baru berdasar performance perusahaan 3 bulan terakhir. Sebaliknya, angka PER akan selalu berubah-rubah, mengikuti gerakan harga saham harian.

Beberapa waktu lalu saya sebutkan bahwa tidak ada perusahaan yang EPS ( performancenya ) SELALU naik, sementara pada saat yang sama harganya SELALU turun. Logikanya, jika anda menyetor modal senilai Rp. 1000 per saham, lalu perusahaan itu menghasilkan 50 perak pada triwulan pertama, lalu 100 perak pada triwulan kedua, lalu 200 perak pada triwulan ketiga dan 400 perak pada triwulan ke-empat, apakah anda mau jual saham perusahaan itu di bawah Rp. 1000? Kecuali kepepet buat modal kawin, pasti anda ndak akan jual di bawah 1000 perak. Jangankan di bawah 1000 perak, 1000 perak pun ogah, kalau bisa sih CEMBAN !!! (ngarep,.. hehehe).

Sedangkan angka PER can be deceptive. Misalnya pada awal periode lapkeu PER satu perusahaan katakanlah 15. Para insider (manajemen) dan kepanjangan tangannya dan orang-orang yang bisa mengakses informasi dari mereka (Institution, big money) tentu paling mengerti tentang performance perusahaan selama periode 3 bulan sebelum lapkeu baru muncul. Dan mereka akan bertindak sesuai apa yang mereka tau ( sapa sih yang ndak mau duit? ). Jika performance-nya bagus, mereka akan memburu dan saling berebut (antara para institution) untuk beli saham perusahaan tersebut, yang berakibat naiknya harga. Pada saat itu, outsider dan investor awam mungkin takut karena angka PER meroket (harga saham naik sementara EPS masih menggunakan data lama, otomatis PER bertambah) dan berpikir, "wah ini udah kemahalan, ogah ah". Padahal begitu lapkeu periode  berikutnya muncul dengan angka EPS yang lebih tinggi, otomatis angka PER akan turun. Sebaliknya juga berlaku sama, jika insider dan kepanjangan tangannya tau bahwa performance perusahaan jelek, mereka akan berebut utk jual atau malah ngeshort sehingga harga saham turun dan angka PER juga turun. Outsider yang ndak ngerti, begitu melihat PER turun, berpikir, "udah murah nih, beli ah" padahal begitu lapkeu keluar, portofolio mereka-lah yang bakal jadi lebih murah.

Contoh nyata untuk hal ini adalah PGAS ( PGAS lageeee... hehehe, maaf, abis yang inget cuma ini sih ), beberapa waktu lalu PER perusahaan ini sempat mencapai level di atas 70. Orang-orang pada takut beli, "Harganya uda kemahalan, PER-nya uda tinggi" katanya. Tapi begitu lapkeu terbaru keluar, Boom !!! EPS meningkat 3 kali lipat lebih, sehingga PER-nya langsung turun ke level 20an, level yang relatif sehat.

William J O'neill dengan metode CANSLIM-nya menyarankan untuk hanya beli saham yang secara kontinyu EPS-nya meningkat diatas 25% pada setiap periode. Dengan metode CANSLIM ini, dia pernah menghasilkan return 2000% dalam waktu 2 tahun. Dia bilang, di bursa saham, ada ribuan saham yang dijual (di wall street). Kalau kita bebas memilih, kenapa harus pilih barang jelek? Pilihlah yang paling bagus ! Dan seperti halnya di pasar lain, barang bagus emang dijual mahal, barang jelek dijual murah, kalau perlu obral, bayar 1 dapat 2...

Di salah satu buku ditulis, fundamental perusahaan itu ibarat  pasang naik/pasang turun, trend itu ibarat ombak, sedangkan gerakan harga harian itu ibarat riak-riak gelombang. Riak gelombang bisa naik turun, sementara ombak bisa bikin mabuk, tapi pada akhirnya arus pasang naik (high tide) atau pasang turun (low tide) yang akan menentukan tinggi permukaan air/kedalaman laut.

Dengan bekal sedikit ilmu TA dari eyang Ratman, Wan_Al dkk, saya kira 'meramal' harga saham akan lebih mudah ( Act like God ) : mana saham yang bakal naik, mana saham yang bakal turun, beli di titik support/oversold, jual di titik resistant/overbought dll. Habis, contoh yang disajikan cantik-cantik sih (chartnya lho, bukan koleksi pramugari eyang). Ternyata begitu dipraktekkan, bursa saham itu penuh onak dan duri. Hasilnya, jangankan menyamai reksadana saham terbaik, menyamai reksadana yang 'rata-rata' aja susahnya minta ampyuuuuuun. Karena pengennya bisa menyamai prestasi om Bill (pengen boleh azzza kan...? hehehe...) saya mencoba memberi nilai tambah dari aktifitas ramal-meramal berdasar chart ini (ada yang bilang 'aktifitas klenik', dukun saham... hahaha...), dgn juga melakukan studi fundamental berdasar LapKeu. Dengan demikian, menurut saya, TA itu powerful, tapi FA juga jangan diabaikan.

Buat para suhu-suhu di milis, tulisan ini bukan untuk bapak-bapak, saya yakin bapak-bapak uda jauh lebih ngerti ketimbang saya. Tulisan ini hanya cocok untuk yang baru masuk ke dunia saham dan/atau baru subscribe di milis. Di antara puluhan/ratusan pakar-pakar, saya yakin ada satu dua orang spt itu yang keselip. Semoga mereka bisa mendapat sedikit ilmu dari tulisan di atas, sehingga, mumpung bulan puasa, saya kan dapat pahala juga...hehehe...

Rgds 

sumber dari :  obrolan-bandar@yahoogroups.com 
On Behalf Of Widhie

No comments: